Senin, 02 April 2012

Laporan Bimbingan Dan Konseling



LAPORAN BIMBINGAN DAN KONSELING
MADRASAH DINIYAH “MIFTAHUL ULUM KALISAT
KELAS I AL-WUSTHO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat ALLAH S.W.T yang telah memberikan berkah, rahmat dan hidayat-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan PPL II dan penulisan laporan RPP ini tanpa suatu halangan apapun.
Laporan layanan bimbingan siswa di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum ini sebagai bentuk keharusan yang dalam hal ini menjadi salah satu bagian dari program perkuliahan. Terselesaikannya Laporan bimbingan konseling ini tidak lepas dari bimbingan dan bantuan semua pihak. Terkait hal tersebut kami  menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bpk. Prof. DR. Khusnurrridlo,MPd selaku Ketua STAIN Jember.
2. Bpk. K. Syamsul Arifin Abd. Hamid selaku Kepala Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Wustha Sumbertaman Glagahwero Kalisat Jember.
3. Bpk. Drs.M. Sarwan, MPd selaku Dosen  Pembimbing Lapangan.
4. Bpk. Abdul Halim, SPdI selaku Guru Pamong di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Wustha Sumbertaman Glagahwero Kalisat Jember.
5. Drs. H.M. Syamsudini, MAg selaku kepala laboratorium STAIN Jember.
6. Segenap Dewan Asatidzah Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Wustha Sumbertaman Glagahwero Kalisat Jember.
7. Santri Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Wustha Sumbertaman Glagahwero Kalisat Jember.
8. Semua pihak yang turut membantu atas kelancaran dalam pelaksanaan PPL II.
jember ,04 Desember 2011-12-10
penyusun


AKHMAD ZAINOLLAH
NIM. 084 094 005

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul   1      
Halaman Pengesahan 2
Kata Pengantar 3
Daftar Isi 4
BAB I   PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 5
B. Pengertian Bimbingan dan Konseling 6
C. Hubungan antara Bimbingan dan Konseling 6
D. Asas Bimbingan dan Konseling di Madrasah 6
E. Tujuan pelayanan Bimbingan dan Konseling 10
F. Metode Pembahasan 13
BAB II PEMBAHASAN 13
A. Jenis Masalah 13
B. Sifat dan saran karakteristik masalah
C. Latar Belakang Masalah 16
D. Saran dan Alternatif Masalah 16
E. Angket Study Kasus
BAB III KESIMPULAN 20







BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat dan bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh  tingkat keberhasilan pendidikan. Negara Indonesia sebagai negara berkembang dalam pembangunannya membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan (Soemanto, 2002: 62).

Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada bab II pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan adalah suatu proses, yaitu usaha manusia dengan penuh tanggung jawab untuk membimbing anak-anak didik menuju kedewasaan. Proses pendidikan yang diselenggarakan secara  formal di sekolah tidak lepas dari kegiatan belajar yang merupakan salah satu kegiatan pokok, oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan membutuhkan tenaga pendidik untuk mengadakan proses belajar mengajar dan akhirnya akan tercapai hasil belajar atau prestasi belajar. Tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia yang berimandan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, demoktratis bertanggungjawab (Sisdiknas, 2003: 12). Ilmu pengetahuan harus mampu memperluas dan meningkatkan kemampuan peserta didik sejalan dengan kemajuan teknologi. Termasuk hal-hal yang bermakna bagi pendidikannya, bagi masyarakat dan pembangunan negara. Oleh karena itu di Indonesia juga telah mengalami perubahan kurikulum pada tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 1999 (Suplemen Penyempurnaan), 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi/ KBK) dan tahun 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP).
Dalam kegiatan belajar yang berlangsung, tidak sedikit siswa akan mengalami hambatan dalam proses belajarnya, hambatan-hambatan itulah yang dimaksud dengan kendala yang menghambat proses tercapainya tujuan belajar. Kendala yang dialami siswa bermacam-macam antara individu yang satu dengan yang lain berbeda, baik macam maupun bobotnya.
Oleh karenanya bimbingan dan penyuluhan sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan karena mempunyai peran dalam mencarikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar.Bimbingan dan penyuluhan berfungsi untuk membantu kelancaran pendidikan dan pengajaran dk sekolah artinya dengan adanya bimbingan dan penyuluhan di sekolah secara intensif akan memberikan dampak positif ,baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses keberhasilan dalam mencapai tujuan  pendidikan.

B. Pengertian Bimbingan Konseling
Bimbingan konseling yang awalnya di kenal dengan Bimbingan dan Penyuluhan keduanya adalah terjemahan kata dari Guidance dan Counseling. Jadi secara etimologis bimbingan dan konseling terdiri dari kata: Guidance yaitu menunjukkan,  memimpin,  mengatur, mengarahkan dan memberi nasihat, bantuan , tuntunan maupun pertolongan. Dan counseling yaitu pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran.
Bimbingan di sini sebagai proses bantuan atau pertolongan yang di berikan oleh pembimbing kepada terbimbing agar yang di bimbing itu mampu mengenal,menghadapi, dan memecahkan masalah dalam hidupnya secara mandiri.
Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan atau pertolongan terhadap individu melalui tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya agar konseli memiliki kemampuan melihat,menemukan,dan memecahkan masalahnya.
C.  Hubungan Antara Bimbingan dan Konseling
Hubungan bimbingan dan konseling di sini adalah tidak terpisahkan  dalam praktik. Karena konseling di sini merupakan salah satu tekhnik bimbingan. Selain itu intregrasi antara bimbingan dan konseling dapat kita ketahui dari pernyataan bahwa ketika seseorang sedang melakukan konseling, berarti ia sedang memberikan bimbingan.


D. Asas Dan Prinsip Bimbingan Dan Konseling  Di Madrasah
1)      Asas-Asas Bimbingan dan Konseling
Kegiatan bimbingan dan konseling, ada asas yang dijadikan pertimbangan kegiatan. terdapat asas-asas yang perlu dilaksanakan agar efektifitas dan efisiensi proses bimbingan dan konseling dapat tercapai. Dan itu digunakan untuk mengantisipasi penyimpangan dalam praktikm pemberian layanan.  Menurut Tohirin ada 12 asas yang harus menjadi dasar pertimbangan dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Asas-asas bimbingan dan konseling itu adalah sebagai berikut:
1.Asas keberhasilan
Asas ini dikatakan juga sebagai asas kunci dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dengan adanya asas keberhasilan ini dapat menimbulkan rasa aman dalam diri klien. Disamping itu, asas keberhasilan ini juga akan menghilangkan kekhawatiran klien terhadap adanya keinginan konselor/guru pembimbing untuk menyalahgunakan rahasia dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya sehingga merugikan klien.
2.Asas kesukarelaan
Dalam memahami pengertian bimbingan dan konseling telah dikemukakan bahwa bimbingan merupakan proses membantu individu. Perkataan membantu disini mengandung arti bahwa bimbingan bukan merupakan suatu paksaan. Oleh karena itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling diperlukan adanya kerja sama yang demokratis secara konselor/guru pembimbing dengan kliennya. Kerjasama akan terjalin jika klien dapat dengan sukarela menceritakan serta menjelaskan masalah yang dialaminya kepada konselor.
3.Asas keterbukaan
Asas keterbukaan merupakan asas penting bagi konselor/guru pembimbing, karena dengan adanya keterbukaan ini dapat ditumbuhkan kecenderungan pada klien untuk membuka dirinya, untuk membuka kedok hidupnya yang menjadi penghalang bagi perkembangan psikisnya.
4.Asas kekinian
Pada umumnya pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan klien saat sekarang atau kini, namun pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Dalam hal ini diharapkan konselordapat mengarahkanklien untuk memecahkan masalah yang dihadapinya sekarang.
5.Asas kemandirian
Salah satu tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha menghidupkan kemandirian di dalam diri klien. Schuld berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa “klien akan terus menyatakan ketergantungannya, selama ketergantungannya itu memperoleh respon dari konselor, sebaliknya rasa ketergantungan akan berhenti bila tidak ditanggapi oleh konselor”
6.Asas Kegiatan
Dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling kadang-kadnag konselor memberikan beberapa tugas dna kegiatan kepada kliennya. Dalam hal ini klien harus mampu melakukan sendiri kegiatan-kegiatan tersebut dalam rangka mencapai tujuan bimbingan dan konseling yang telah ditetapkan. Di pihak lain konselor harus berusaha/mendorong agar kliennya mampu melakukan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan tersebut.
7.Asas kedinamisan
Keberhasilan usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku klien ke arah yang lebih baik. Untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku itu membutuhkan proses dan waktu tertentu sesuai kedalaman dan kerumitan masalah yang dihadapi klien. Konselor dan klien serta pihak-pihak lain diminta untuk memberikan kerjasama sepenuhnya agar pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat dengan cepat menimbulkan perubahan dalam sikap dan tingkah laku klien.
8.Asas keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjalin keterpaduan berbagai aspek dari individu yang dibimbing. Untuk itu konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang dihadapi klien.
9.Asas kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat dan lingkungannya. Disadari sepenuhnya bahwa konselor akan menyertakan norma-norma yang dianutnya kedalam hubungan konseling baik secara langsung atau tidak langsung.
10.Asas keahlian
Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para petugas harus mendapaykan pendidikan dan latihan yang memadai. Pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepribadian yang ditampilkan oleh konselor/guru pembimbing akan menunjang hasil konseling.
11.Asas alih tangan
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang menangani masalah-masalah yang cukup pelik. Dalam hal in ikonselor perlu mengalihtangankan (referal) klien pada pihak lain (konselor) yang lebih ahli untuk menghadapi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien tersebut.ditetapkan.
12.Asas Tut Wuri Handayani
Sebagaimana yang telah dipahami dalam pengertian bimbingan dankonseling bahwa bimbingan dan konseling ini merupakan kegiatan yang telah dilakukan secara sistematis., sengaja, berencana, terus menerus, dan terarah kepada suatu tujuan. Oleh karena itu kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan adanya pada saat klien mengalami maslaah dan menghadapkannya kepada konselor atau guru pembimbing saja. Kegiatan bimbingan dan konseling harus senantiasa diikuti secara terus menerus dan aktif sampai sejauh mana klien telah berhasil mencapai tujuan yang telah
2)      Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling adalah seperangkat landasaan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Prinsip bimbingan dan konseling yang dirumuskan oleh Arifin dan Eti Kartikawati(1994) adalah:
a.         Prinsip-prinsip umum : individu memiliki karakteristik yang berbeda oleh sebab itu bimbingan harus berpusat pada individu. Bimbingan harus sesuai dengan kebutuhan individu dan di lakukan secara fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi keluarga agar dapat membantu untuk menyelesaikan masalah yang di hadapi.
b.        Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu: Bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa dan harus dapat memenuhi kebutuhan individu yang beragam dan luas tanpa memandang latar belakang suku, agama, sosial ekonomi, dan sosial budaya.
c.         Prinsip-prinsip khusus yang berkenaan dengan pembimbing: pembimbing  harus  mempunyai dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuan sebagai pembimbing agar dapat melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Di samping itu pembimbing harus berupaya untuk mengembangkan keahliannya melalui kegiatan-kegiatan seperti pelatihan, penataran dan work shop agar dalam menyikapi individu pembimbing dapat kaya akan metode. Hal yang terpenting pembimbing harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu atau siswa yang di bimbingnya.
d.        Prinsip-prinsip khusus berkenaan dengan organisasi dan administrasi pelayanan bimbingan dan konseling: pelayanan ini harus di laksanakan secara sistematis dan berkelanjutan dan harus sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Di sini harus ada pembagian waktu antar pembimbing, kepala sekolah adalah penanggung jawab utama dalam menyelenggarakanbimbingan dan konseling di sekolah karena sekolah harus juga bekerja sama dengan berbagai pihak.

E. Tujuan Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat:
1. merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang;
2. mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin;
3. menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya;
4. mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk:
a. mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya,
b. mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya,
c. mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut,
d. memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri
e. menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat,
f. menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan
g. mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.
1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah:
Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.
Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat
Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.
Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.
Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah :
Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.
Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah
Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir.
Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.
Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.
Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.
Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.
Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.
Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

F. metode Pembahasan
Metode dalam pengertian harfiyah adalah jalan yang harus di laiui untuk mencapai suatu tujuan,karena metode berasal dari kata meta yang berarti melalui dan hdos berarti jalan, tapi esensi dari metode adalah sarana yang dapat di gunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik bersifat fisik, seperi alat perag ,pergedungan atau proses kegiatan bimbingan yang berlangsung atau bersifat non fisik seperti sikap ,teladan ,pandangan cara-cara pendekataan dan pemahaman terhadap saran metode  seperti wawancara,angket,tes psikologis,sosiometri dan sebagainya
Dalam mengungkapkan segala sesuatu yang menjadi sebab kemunduran belajar anak maka anak bimbing perlu didekati melalu metode sebagai berikut:
Wawancara adalah salah satu metode untuk memperoleh fakta-fakta kejiwaan yang dapat d jadikan bahan pemetari tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan anak bombing pada saat tertentu yang memerlukan bantuan
Direktif ,metode ini lebih bersifat mengarahkan anak bimbingan untuk bersaha mengatasi kesulitan yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada anak bimbing ialah dengan memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahn yang menjadi sumber kesulitan yang di hadapi didalam anak bombing.
BAB II
PEMBAHASAN
A. jenis Masalah

Problem yang dihadapi oleh masing-masing pribadi berbeda-beda.Dilihat dari jenisnya ada beberapa,diantaranya :

1. Masalah belajar
Setiap pribadi mempunyai problem dalam pelajaran maupun belajar yang didapat dari sekolah dan lain lain.
2. Masalah pendidikan
Kesulitan yang dihadapi oleh setiap pribadi yang berhubungan dengan kegiatan umum adalah pendidikan, ketika peserta didik memasuki pada situasi sekolah yang baru di hadapnya.Misalnya dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan,pelajaran dan lain-lain.
3. Masalah social
Setiap individu dalam bersosialisasi tidak memiliki kemampuan yang sama. Kesulitan yang dimiliki bagi tiap pribadi yaitu bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain atau dengan lingungannya, karena kita ketahui bahwa masyarakat itu bersifat majemuk,kemu
Dian solusi terbaik cara bersosialisasi terhadap lingkungan dan masyarakat. Atau juga interaksi dengan keluarga ayah,ibu,saudar, dan kerabat yang sering sekali kita bersinggungan.
4. Masalah ekonomi
Masalah ekonomi sangat berpengaruh dan memberikan dampak yang sangat penting bagi kelancaran belajar siswa. Karena dalam proses belajar dibutuhkan biaya yang digunakan dalam menunjang belajarnya.


B. sifat Dan Saran Karakteristik Masalah

Mengenai istilah sifat bimbingan dan konseling, tentunya hal ini akan mengacupada situasi pada masa pemberian bantuan yang dilihat dari segi proses penampakan atau fenomena- fenomena kesulitan yang dialami dan dihadapi oleh peserta didik padasaat sekarang. Oleh karena itu dalam pemberian bantuan kepada peserta didik dapatdilakukan sebelum peserta didik mengalami kesulitan, selama ada kesulitan dansetelah ada atau mengalami kesulitan. Adapun sifat bimbingan dan konseling yangdiberikan kepada peserta didik dapat berupa:
a. Pencegahan (prevenif), yaitu upaya pemberian bantuan kepada peserta didik yangdiberikan oleh guru pembimbig sebagai upaya pencegahan pada peserta didiksebelum menghadapi atau mendapatkan suatu kesulitan yang serius.
b. Penyembuhan (kuratif), yaitu pemberian bantuan pada peserta didik dalam usahaperbaikan apabila mengalami suatu permasalahan yang serius dan menghasilkansuatau pemecahan masalah, sehingga peserta didik mendapat memecahkanmasalah dan terbebas dari masalah ya ng dihadapinya.
c. Pengembangan (preservatif), yaitu suatau pemberian bantuan yang diberikanpembimbing kepada peserta didik dengan mengiringi pekembangan mentalnyasupaya tetap stabil terutama dalam memantapkan pola pikir yang positif dantindakan peserta didik yang mengarah pada perubahan menuju arahperkembangan, sehingga peserta didik mampu mengembangkan dirinya secaraoptimal.
d. Pemeliharaan (treatment), yaitu pemberian bantuan yang dimaksudkan untukmemupuk, menata dan mempertahankan kesehatan mental peserta didik setelahmelalui proses penyembuhan supaya peserta didik tidak mengalami masalah yang serius lagi dan mampu bertahan dalam kesembuhannya setelah individu menjalaniproses penyembuahan.
Sifat-sifat bimbingan dan konseling yang ada di atas adalah merupakan suatutindakan yang dilakukan oleh petugas bimbingan dan konseling dalam melaksanakanbimbingan dan konseling terhadap peserta didik dengan baik dan efektif. Darikeempat sifat bimbingan dan konseling diatas, bimbingan memiliki kecenderungansifat mencegah, pengembangan dan pemeliharaan. Sedangkan konseling memilikikecenderungan sifat penyembuhan karena dalam konseling itu sendiri individu sudahmengalami masalah yang harus diselesaikan secara konseling.
C. latar Belakang Masalah

Permasalahan yang dihadapi siswa bimbingan, kami mencoba meneliti latar belakang yang menyebabkan itu semua sehingga pada akhirnya dapat diketahui penyebab khusus tentang kenakalan yang merupakan salah satu dari kesulitan belajar dalam bersikap atau dalam pengoptimalan belajar.Dari penelitian hasil tersebut nantinya penulis dapat mencari jalan keluarnya atau meninimalisir beban persoalan yang dihadapi anak tersebut sekaligus sebagai upaya memotivasi agar anak tersebut lebih meningkatkan prestasi belajarnya.
1. Masalah belajar, berdasarkan data yang diperoleh penulis, bahwa kondisi fisik anak tersebut dan keluarga siswa yang bersangkutan ternyata siswa mempunyai masalah dengan keluarga.Kenakalan dan malas dalam belajar anak bombing kami muncul karena kurangnya perhatian dari orang tua,motivasi yang sangat di butuhkan selain proses belajar karena perceraian orang tua.
2. Masalah pribadi dalam hal yang sangat terkait, dalam persoalan-persoalan yang terjadi pada dirinya kalau tidak mampu dipecahkan dengan baik atau tidak berusaha untuk meminta bantuan kepada orang lain maka akan menjadi suatu kendala yang cukup mendasar bagi perkembangan psikologi anak tersebut,dengan demikian kalau persoalan tersebut tidak mampu diselesaikan dengan baik,maka dampak yang terjadi adalah pada titik stress yang terjadi pada psikologi anak tersebut.


D. Saran Dan Alternatif Masalah

1. Pemecahan masalah secara umum
Permasalahan yang dihadapi oleh siswa tersebut sebenarnya lebih berawal dari kurangnya perhatian dari orang tua dan jarangnya komunikasi yang intensif dan terbuka antara orang tua dengan anaknya, sehingga anaklah yang akan mendapatkan imbas yang sangat besar dan berpengaruh pada belajar.Sedangkan kondisi anaknya belum sepenuhnya mampu mengatasi problemnya secara mandiri sepenuhnya melainkan masih membutuhkan bantuan orang lain terutama dari orang tuanya.
2. Pemecahan masalah secara khusus .
Selain meningkatkan intensitas komunikasi antara siswa dan orang tuanya, maka perlu penyesuaian yang bersifat lebih khusus misalnya :
a. Memberi bimbingan kepada siswa agar kreatif menampakkan problem solving.
b. Menjembatani keduanya untuk selalu melakukan proses dialog dengan datang ke rumahnya, baik itu mendiskusikan perkembangan belajarnya atau aktifitasnya sehari-hari.
c. Menyarankan siswa tersebut untuk mengaktifkan diri di suatu organisasi yang ia sukai, karena dengan demikian ia akan lebih memahami beberapa karakter manusia dan ia akan selalu dialog ketersinggungan lintas karakter. Hal itu bisa membuat siswa tersebut lebih dewasa dan mandiri dalam banyak hal.


E. ANKET STUDI KASUS.
I. Identitas siswa
Nama                              :
Kelas                              :
Jenis Kelamin                 :
Tempat/tanggal lahir      :
Alamat                           :
Suku Bangsa                  :
Agama                            :
Kegiatan yang disukai   :
b)      Identitas Keluarga
Ayah kandung
Nama                              :
Alamat                           :
Pekerjaan                        :
Suku Bangsa                  :
Agama                            :
Ibu Kandung                  :
Nama                              :
Alamat                           :
Pekerjaan                        :
Suku Bangsa                  :
Agama                            :
Kedudukan dalam keluarga
Dirumah tinggal             :
Status Keluarga              :
Jumlah Saudara              :
Klien Anak ke                :
II. DAFTAR SISWA
1. Komposisi keluarga
a. Jumlah keluara :
b. Orang laki-laki dewasa :
c. Orang perempuan dewasa :
d. Anak laki-laki :
e. Anak perempuan :
f. Status anak :
g. Anak nomor ke :
2. Riwayat pendidikan
No Th,Masuk   Th.keluar   Lama studi
a. Tk : -
b. SD/MI :
c. SMP/MTS :
d. SMA/MA :-
e. Pernah tidak
Naik kelas :
f. Kalau pernah
Berapa kali :
g. Komentar guru
Terhadap pres
Tasi siswa :

3. Jarak rumah dengan sekolah :
4. Kendaraan yang digunakan :
5. Kegiatan di rumah :
a. Setelah dari sekolah :
b. Sebelum sekolah :
c. Kegiatan pagi hari :
d. Kegiatan siang hari :
e. Kegiatan sore hari :
f. Kegiatan malam hari :
g. Tidur malam hari :
h. Bangun :
6. Kegiatan fisik
a. Penglihatan : Baik
b. Pendengaran : Baik
c. Perawakan : sedang
d. Penyakit yang diderita : mag
7. Keadaan ekonomi
a. Penghasilan orang tua : cukup
b. Waktu membayar spp : tepat waktu
8. Pemamfaatan waktu luang
a. Pagi hari : siap-siap sekolah
b. Siang hari : Bermain
c. Malam hari : menonton TV
9. Kelakuan dan relasi social
a. Sikap terhadap teman sekelas : Baik
b. Sikap terhadap guru : Baik
c. Sikap terhadap orang tua : Baik
d. Sikap terhadap saudara : Baik
e. Sikap/perlakuan teman sekelas : Baik
f. Sikap/perlakuan teman sekelas : Baik
g. Sikap/perlakuan teman sekelas : Baik
h. Sikap/perlakuan teman sekelas : Baik
i. Komentar terhadap prilaku siswa : Baik
1. Komentar guru : rajin-rajinlah belajar
2. Komentar orang tua : belajar yang tekun
3. Komentar teman : tingkatkan prestasi bela
  jarmu
10. Moral
a. Ibadah : Cukup
b. Muamalah : Cukup
11. Masalah yang berkaitan dengan sekolah dan madrasah
a. Disiplin : Cukup
b. Pakaian : Rapi
c. Lain-lain : -
12. Belajar
a. Waktu belajar : tidak pernah belajar
b. Lama belajar : 15 menit
c. Fasilitas belajar : buku paket
d. Teman belajar : -
e. Kemudahan dalam belajar : diingat-ingat h/hafal
f. Kesulitan dalam belajar : sulit
13. Lain-lain
a. Hobby : sepak bola
b. Cita-cita : pembalap
c. Pelajaran yang disenangi : semuanya kecual Mtk
d. Mengisi waktu libur : bermain sepeda motor
III. Masalah-masalah yang dihadapi
1. Masalah kesehatan : pusing
2. Masalah moral : baik
3. Masalah social : baik
4. Masalah belajar : rajin
5. Masalah keluarga : baik
6. Masalah ekonomi : kurang
7. Masalah lain-lain : -
IV. Alternative Pemecahan Masalah
1. Pemecahan masalah secara garis besar
V. Saran-saran
1. Kepada Orang Tua
2. Kepada siswa
3. Kepada pihak sekolah



























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas ,bahwa seseorang yang mempunyai masalah akan mendapatkan solusi, dan hal ini bisa kita buktikan dengan berfikir secara arif dan sikap dewasa yang tidak disikapi dengan sikap yang negative.
Maka untuk itu penyusun akan menyimpulkan dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswa ini :
1. masalah belajar yang disebabkan oleh minimnya perhatian dari orang tua
2. masalah lingkungan masyarakat yang kurang mendukung terhadap prestasi siswa sehingga haru ada peninjauan ulang lingkungan belajar dirumahnya.
3.kurang adanya semangat dan didikan dari keluarga
B. Saran-saran
Saran penyusun dalam hal ini adalah memberikan saran-saran dengan tujuan agar klien dapat menyelesaikan masalahnya yaitu kepada :
1. Kepala sekolah /madrasah
a. Hendaknya pihak madrasah memberikan pengetahuan bimbingan konseling kepada guru sehingga nantinya dapat memahami kejiwaan siswa
b. Hendaknya seorang guru cerdas dalam menyikapi gejala psikologi dan tingkah laku siswa di madrasah maupun diluar madrasah
c. Sebagai wali kelas seharusnya banyak berhubungan dengan siswanya terlebih siswa yang bermasalah
2. Kepada orang tua
a. Orang tua harus memberikan dukungan yang besar terhadap anak-anaknya dalam semangat belajar
b. Orang tua tidak terlalu menmaksakan kemampuan anak-anaknya namun harus ditelateni
c. Orang tua sebagai pembimbing utama harus lebih memahami banyak hal terhadap perkembangan psikologi anaknya
3. Kepada siswa
a. Hendaknya siswa lebih terbuka pada orang tuanya mengenai masalah yang dihadapinya
b. Siswa harus lebih banyak belajar dalam mengatasi problem
c. Siswa hendaknya berkecimpung dalam organisasi baik disekolah maupun di lingkungan masyarakat.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar